Jam Digital

Sabtu, 14 April 2012

KUMPULAN PANTUN MELAYU

Wahai adinda peliharalah amanah
Tunjuk ajarnya engkau telaah  
Ambil oleh mu mana yang berfaedah
Supaya hidupmu tidak menyalah

Hikayat berbilang di negeri junjungan
Jadi menjalin zaman berzaman
Mari mantapkan dunia pendidikan
Semoga Riau memperoleh kemajuan

Besarlah buah kelopak gading
Dikenal tandan beri bertali
Besarlah tua duduk bersanding
Mufakat dapat kerja menjadi

Apa tanda hidup beriman
Mufakat dulu sebelum berjalan
Putus kata usai berunding
Disitu janji kita tegakkan

Apa tanda melayu bertuah
Duduk tegaknya bermusyawarah
Apa tanda melayu beradat
Hidup didalam musyawarah mufakat.

Putri raja berkerudung kelingkan
Sungguh indah dan menyenangkan
Anugerah  baiduri telah diberikan
Karya-karya besar selalu kita nantikan

Tuanku tambusai harimau Rokan
Gurindam 12 raja alihaji
Mari beriring kita berjalan
Menuju negeri yang diimpikan

Jembatan Siak Tinggi menjulang
Jadi Penghubung Sungai Siak Jantan
Mana yang baik bawalah pulang
Yang kurang baik mohon ditinggalkan

Dibawa orang ke Tanjung Jati
Budimu tuan saya terima
Sudah terlekat di dalam hati
Terpahat kukuh hingga ke mati

Adat menyuluh sarang lebah
Kalau berisi tidak bersambang
Adat penuh tidak melimpah
Kalau berisi tidaklah kurang

Padat tembaga jangan dituang
Kalau dituang melepuh jari
Adat lembaga jangan dibuang
Kalau dibuang binasa negeri

Lebat kayu pantang ditebang
Sudah berbuah lalu berdaun
Adat Melayu pantang dibuang
Sudah pusaka turun-temurun

Patah lancang kita sadaikan
Supaya sampan tidak melintang
Petuah orang kita sampaikan
Supaya badan tidak berhutang

Burung punai memakan saga
Saga merah besar batangnya
Rukun dan damai di rumah tangga
Amal ibadat jadi tiangnya

Encik Mamat membelah bambu
Bambu berjalin rotan saga
Baiklah hormat kepada ibu
Supaya terjamin masuk surga

Kalau ada selasih dulang
Kami menumpang ke Jawa saja
Buah hati kekasih orang
Kami menumpang ketawa saja

Hilang kemana bintang kartika
Tidak nampak di awan lagi
Hilang kemana adik seketika
Tidak nampak berjalan lagi

Pisang serendah masaknya hijau
Ditunggu layu tak mau layu
Tinggi rendah mata meninjau
Ditunggu lalu tak mau lalu

Elok-elok menunggang kuda
Tebing bertarah tanahnya licin
Elok-elok berbini muda
Nasi hangus gulainya masin

Gunting Cina ada pasaknya
Gunting Siantan apa besinya
Bunting betina ada anaknya
Bunting jantan apa isinya

Pulang mengail membawa sepat
Sepat dijual orang Melaka
Makan di laut muntah di darat
Kalau tahu cobalah terka

Sayang Serawak sungailah sempit
Buah rengas lambung-lambungan
Hendak dibawa perahuku sempit
Tinggal emas tinggallah junjungan

Kalau meletus Gunung Sibayak
Alamat Medan menjadi abu
Angin berhembus layarku koyak
Pulau yang mana hendak dituju

Lumba-lumba main gelombang
Riaknya sampai ke Indragiri
Coba-coba menanam mumbang
Kalau tumbuh tuah negeri

Rumpun buluh dibuat pagar
Cucuk cempedak dengan lidi
Dengan pantun saya belajar
Saya budak belum mengerti

Wau lah wau bulan
Wau bulan teraju tiga
Mari adik marilah kawan
Kita cuba beradu laga

Minta daun diberi daun
Dalam daun buah kelapa
Minta pantun dibalas pantun
Dalam pantun ada bicara

Orang masak pakai kuali
Membawa pelita semuanya
Berbisik si pekak dengan si tuli
Tertawa si buta melihatnya

Tali pandan kembar empat
Dicincang jadi berderai-derai
Berkelahi ketan dengan ketupat
Pisang goreng datang melerai

Tampak musang lari berlari
Mengejar ayam beriring-iring
Pisang goreng tegak menari
Tersenyum melihat ketan di piring
  
Cina gemuk membuka kedai
Menjual ember dengan pasu
Bertepuk tangan adikku pandai
Boleh diupah air susu

Ambil segulung rotan saga
Sudah diambil mari diurut
Duduk termenung harimau tua
Melihat kambing mencabut janggut

Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gemetar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat

Elok rupa pohon belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Walau marah ketawa juga

Hendak berlayar ke Pulau Pangkor
Berjumpa perahu di biduknya
Jika tidak misai dicukur
Lubang hidung dirodoknya

Tudung saji hanyut terapung
Disulam cantik dengan benang
Hajat hati nak pulang kampung
Sayang sekali tak pandai berenang

Sirih kasih di pucuk pauh
Kuntum melati sukar digubah
Jika sekarang bercerai jauh
Di dalam hati janganlah berubah

Pulau Tinggi terandak Cina
Tampak dari Pasir Seribu
Abang pergi janganlah lama
Tidak kuasa menanggung rindu

Asam pauh dari seberang
Tumbuhnya dekat tepi tebat
Badan jauh di rantau orang
Sakit siapa yang akan mengobat

Pucuk pauh selara pauh
Sembilu ledung-ledungkan
Adik jauh kakanda pun jauh
Kalau rindu sama menungkan

Di pucuk nangka tersangkut layang-layang
Pucuk pauh selasih Jambi
Bagaimana tidak dikenang-kenang
Pucuk dicinta kekasih hati


Di kiri jalan di kanan pun jalan
Tengah-tengah pohon mengkudu
Dikirim jangan dipesan pun jangan
Sama-sama menanggung rindu

Hendak gugur, gugurlah nangka
Jangan menimpa ranting pauh
Hendak tidur, tidurlah mata
Jangan mengenang orang yang jauh

Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di gunung ikan di laut
Dalam belanga bertemu juga

Buah kurma berlambak-lambak
Dimakan orang pagi dan petang
Bagai kerja menolak ombak
Makin ditolak semakin datang

Anak Madras menggetah punai
Punai terbang mengirap bulu
Betapa dera arus di sungai
Ditolak pasang balik ke hulu

Kayu tempinis dari kuala
Dibawa orang pergi ke Melaka
Betapa manis rasanya nira
Disimpan lama menjadi cuka

Satu dua tiga enam
Satu enam jadi tujuh
Buah delima yang ditanam
Buah berangan hanya tumbuh

Anak Batak mudik bergalah
Diketip nyamuk habis lebam
Bukan retak mencari belah
Sukat dihempas remuk redam

Jika masak pisang setandan
Mari simpan dalam kereta
Jika ada tuah di badan
Kaca dipegang jadi permata

Tanam padi di sawah bendang
Menanti masuk bilangan tahun
Jika pandai menjadi orang
Rezeki secupak makan setahun

Orang Daik balik ke Daik
Langsung menghadap si Raja Muda
Kalau tak dapat tukang yang baik
Emas sembilan menjadi tembaga

Kalau pergi tuan ke ladang
Banyak tupai di atas pokok
Kalau hari memang lah siang
Tidak menanti ayam berkokok

Cik Mahayu memakai subang
Subang bertatah permata intan
Kalau nak tahu menjinakkan kumbang
Taburkan bunga di tengah halaman

Batang betik di tepi pagar
Buah rambutan merah berseri
Orang baik tak payah diajar
Bagaikan duri tajam sendiri

Orang Batak bermain pedang
Sedikit tak gentar, sedikit tak gerun
Saya umpama katak di padang
Penat berkotor hujan tak turun

Pandai berenang ikan siakap
Berenang bermain dalam perigi
Sirih pinang sirih kerakap
Boleh dibuat penawar jampi

Laksamana pergi memikat
Dapat seekor anak balam
Sungguh kecil sampan pukat
Berani berlayar lautan dalam

Buah durian dari hulu
Pokoknya banyak di kebun Cik Amin
Tak tahukah tuan semenjak dahulu
Dalam gula racun bermain

Disangka nenas di tengah padang
Rupanya urat jawi-jawi
Disangka panas hingga petang
Rupanya hujan di tengah hari

Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya

Jauh sungguh pergi mandi
Maksud hati hendak bertapa
Berat sungguh menanggung budi
Seribu tahun memang tak lupa

Anak beruk di tepi pantai
Pandai melompat pandai berlari
Biar buruk kain dipakai
Asal hidup pandai berbudi

Bila memandang ke muka laut
Nampaklah sampan mudik ke hulu
Bila terkenang mulut menyebut
Budi yang baik ingat selalu

Baju bercorak tiada berpita
Pakaian anak Panglima Garang
Emas dan perak pengaruh dunia
Budi yang baik dijunjung orang

Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air asin
Hilang mahasa karena emas
Hilang budi karena miskin

Sedap sungguh buah nenas
Buat makan buka puasa
Jangan dipandang perak dan emas
Tapis dahulu budi bahasa

Kapal berlayar dari Asahan
Ambil parang dari kemudi
Mati ikan karena umpan
Mati orang karena budi

Payah kami bertanam padi
Nenas jugalah ditanam orang
Payah kami menabur budi
Emas juga yang dipandang orang

Semenjak kentang dijadi gulai
Ubi tidak bersama lagi
Semenjak uang jadi pemakai
Budi jarang berguna lagi

Yang kurik hanya kundi
Yang marah hanya saga
Yang baik hanya budi
Yang indah hanya bahasa

Biarlah orang bertanam buluh
Kita bertanam padi juga
Biarlah orang bertanam musuh
Kita bertanam budi juga

Baik-baik makan keladi
Keladi itu ada miangnya
Baik-baik termakan budi
Budi itu ada hutangnya

Kalau makan keladi muyang
Jangan lupa pada bungkalnya
Kalau termakan budi orang
Jangan lupa pada asalnya

Apalah tanda batang keladi
Batang keladi di tanah isinya
Apalah tanda orang berbudi
Orang berbudi rendah hatinya

Sungguh indah bunga melati
Warna putih harum mewangi
Terasa indah tentram di hati
Meraih Prestasi Harumkan Negeri

Hidup mulia bukan emas dan permata
Hidup mulia dengan jujur dalam berkata
Mari selamatkan generasi bangsa
Generasi yang bebas dari Narkoba

Jalan-jalan ke Taluk Kuantan
Melihat budaya Pacu Jalur
Penegakan supermasi Hukum Kita Laksanakan
Semoga Riau semakin makmur

Anak negeri mari berkarya
Laki-laki Perempuan janganlah dibeda
Mari bersatu majukan bangsa
Wujudkan masyarakat yang sejahtera

Lancang kuning negerinya Riau
Alamnya indah rakyatnya ramah
Jika pariwisata Riau maju dan mengkilau
Rejeki pun turun melimpah ruah

Siapa tahu mensyukuri nikmat
Dunia akhirat beroleh rahmat
Siapa tahu mensyukuri nikmat
Hidup matinya takkan melarat

Sungguh banyak jajaran pulau
Pulau Bintan tanahnya merah
Bahasa indonesia berasal dari Melayu Riau
Janganlah kita melupakan sejarah

Naik rakit dengan panglima
Hendak berburu kehutan bakau
Marilah bangkit bersama-sama
Untuk memajukan Provinsi Riau

Elok jati karena dipahat
Molek nian dijadikan pintu
Elok negeri karena sepakat
Pemimpin bekerja bahu membahu

Kayu cendana dijadikan pintu
Cantik terlihat dipandang mata
Kita bekerja bahu membahu
Jadikan rakyat hidup sejahtera

Asam paya dalam belanga
Dimakan putri diwaktu senja
Apa tanda negeri yang jaya
Adat budaya jadi objek wisata

Asam paya dalam belanga
Dimakan putri diwaktu senja
Kalau ingin Riau berjaya
Mari kita bangun bersama-sama

Lancang Kuning negerinya Riau
Alamnya indah rakyatnya ramah
Jika Pariwisata Riau maju dan mengkilau
Rezekipun turun berlimpah ruah

Hikayat berbilang di negeri junjungan
Jadi ingatan zaman berzaman
Mari mantapkan dunia pendidikan
Semoga Riau memperoleh kemajuan

Iman dihati harus terus berkobar
Itu tandanya orang beriman
Dengan majlis zikir dan tabligh akbar
Sebagai bekal akhirat pembawa kebahagiaan
  
Asam paya dalam belanga
Dimakan putri diwaktu senja
Apa tanda negeri yang jaya
Adat budaya jadi objek wisata

Lancang Kuning negerinya Riau
Alamnya indah rakyatnya ramah
Jika pariwisata Riau maju dan mengkilau
Rezekipun turun berlimpah ruah

Husein Haji wukuf di Arafah
Setelah wukuf lalu melontar
Walaupun senantiasa mengagungkan Allah
Syiar Islam terus terpancar

Tanjung Katung airnya biru
Tempat orang bermandi ria
Duduk sekampung lagukan rindu
Apalah pula jauh di mata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar